Tuesday, May 10, 2016

SOFTWARE MAINTENANCE MATURITY MODEL 
Sebuah pencarian literatur belum mengungkapkan apapun teknik diagnostik yang komprehensif untuk mengevaluasi kualitas proses pemeliharaan, seperti yang dijelaskan oleh model proses tingkat tinggi hadiah inventarisasi proposal terbaru dari rekayasa perangkat lunak proses evaluasi dan penilaian model . Masing-masing model telah dianalisis untuk mengidentifikasi kontribusi yang dapat membantu pengelola . Dari tiga puluh empat model yang diusulkan dalam ulasan ini , hanya segelintir termasuk didokumentasikan praktek perawatan , kadang-kadang disertai dengan pemikiran dan referensi . Namun , tidak satupun dari mereka meliputi seluruh set topik dan konsep model proses diperkenalkan di sini.

1. SOFTWARE MAINTANANCE
Perawatan perangkat lunak (software maintenance) adalah aktivitas yang dimulai sejak perangkat lunak mulai digunakan (after delivery) hingga akhirnya perangkat lunak tersebut tidak dapat digunakan lagi (retired). Tujuannya adalah untuk memperbaiki kesalahan (to correct), meningkatkan kinerja/ fungsionalitas (to improve), menyesuaikan dengan lingkungan (to adapt), atau untuk mencegah terjadinya kesalahan (to prevent).
Dengan beragamnya tujuan perawatan perangkat lunak, maka jenis perawatan perangkat lunak dapat dibagi menjadi empat pula, yaitu perawatan perbaikan (correction), perawatan peningkatan kinerja (improvement), perawatan penyesuaian (adaptation), dan perawatan pencegahan (prevention). Akan tetapi, secara umum, jenis perawatan perangkat lunak dapat dikelompokkan kedalam dua kategori besar, yaitu perawatan perbaikan (correction) dan  perawatan peningkatan (enhancement). Perawatan jenis kedua mencakup perawatanimprovement, adaptation, dan prevention.
Sayangnya, perawatan perangkat lunak belum dipahami sebagai sebuah proses yang harus dilakukan untuk menjaga agar perangkat lunak tetap dapat digunakan dengan optimal, sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Umumnya, para pengguna berpendapat bahwa sekali sebuah perangkat lunak selesai dibangun, perangkat lunak tersebut seharusnya dapat langsung digunakan, dan dapat terus digunakan dalam jangka waktu yang relatif lama…

2. ASPEK KEGIATAN MAINTENANCE
Beberapa aspek-aspek penting dalam perencanaan perawatan adalah:
1. Perencanaan

Perencanaan adalah kegiatan untuk menjalankan fungsi
1.    Aspek-Aspek penting dalam perawatan perencanaan adalah :
·         Penyusunan secara struktural kegiatan perawatan yang akan dijalankan
·         Penyusunan sistem perawatan
·         Kegiatan pengontrolan dan pencatatan
·         Penerapan sistem perawatan dan pencatatan

Sedangkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan perawatan adalah ruang lingkup pekerjaan, prioritas pekerjaan, kebutuhan ketrampilan, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan peralatan dan kebutuhan material.

2.      Pemeriksaan
Kegiatan pemeriksaan yang telah tersusun dengan teratur akan menjaga performa mesin dalam keadaaan optimal dan dapat berfungsi sesuai standar. Kegiatan pemeriksaan terdiri dari:
·      Pemeriksaan operasional
·      Pemeriksaan pemberhentian
·      Pemeriksaan overhaul.

3.      Pemilihan komponen/ suku cadang Pemilihan komponen atau suku cadang merupakan kegiatan yang paling penting dalam menjalankan kegiatan overhaul. Dengan pemilihan suku cadang yang sesuai dengan spesifikasi mesin akan menjaga mesin tetap dapat bekerja dalam kondisi standar.

3.  MAINTENANCE PLANNING ACTIVITY

Definisi dan faktor-faktor penunjang, kendala yang muncul, langkah-langkah penyusunan, dan kebijakan perencanaan perawatan, klasifikasi, persiapan, dan prinsip perencanaan perawatan, tahapan perencanaan pekerjaan perawatan, perencanaan tenaga kerja perawatan, diagram alir pekerjaan perawatan, dan standar perencanaan perawatan.

APA ITU COBIT?

Apa yang anda ketahui mengenai COBIT (Control Objective For Information and Related Tecnology)? (Vclass ketiga (PreTest)

Pengertian Cobit
COBIT adalah merupakan kerangka panduan tata kelola TI dan atau bisa juga disebut sebagai toolset pendukung yang bisa digunakan untuk menjembatani gap antara kebutuhan dan bagaimana teknis pelaksanaan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam suatu organisasi. COBIT memungkinkan pengembangan kebijakan yang jelas dan sangat baik digunakan untuk IT kontrol seluruh organisasi, membantu meningkatkan kualitas dan nilai serta menyederhanakan pelaksanaan alur proses sebuah organisasi dari sisi penerapan IT.

Cobit berorientasi proses, dimana secara praktis Cobit dijadikan suatu standar panduan untuk membantu mengelola suatu organisasi mencapai tujuannya dengan memanfaatkan IT. Cobit memberikan panduan kerangka kerja yang bisa mengendalikan semua kegiatan organisasi secara detail dan jelas sehingga dapat membantu memudahkan pengambilan keputusan di level top dalam organisasi.

Siapa saja yang menggunakan COBIT? COBIT digunakan secara umum oleh mereka yang memiliki tanggung jawab utama dalam alur proses organisasi, mereka yang organisasinya sangat bergantung pada kualitas, kehandalan dan penguasaan teknologi informasi.

COBIT dibuat oleh organisasi Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan dikembangkan oleh IT Governance Institute (ITGI). Saat ini pengembangan terbaru dari standar ini adalah COBIT Edisi 5.0.

Misi Cobit 
Melakukan penelitian, pengembangan, publikasi dan promosi terhadap control objective dari teknologi informasi yang secara umum diterima di lingkungan internasional untuk pemakaian sehari-hari oleh manager dan auditor.

Lingkup Cobit 
Cobit memiliki 4 Cakupan Domain yaitu:
1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and Organise)
Domain ini mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.
2. Pengadaan dan Implementasi (Acquire and Implement)
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dibangun atau diperoleh dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.
3. Pengantaran dan Dukungan (Deliver and Support)
Domain ini berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri dari operasi pada security dan aspek kesinambungan bisnis sampai dengan pengadaan training.
4. Pengawasan dan Evaluasi (Monitor and Evaluate)
Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.

Keempat domain tersebut diatas kemudian dijabarkan menjadi 34 faktor resiko yang harus dievaluasi jika ingin diperoleh suatu kesimpulan mengenai seberapa besar kepedulian manajemen terhadap teknologi informasi, serta bagaimana teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan manajemen akan informasi.

Gambar Kerangka COBIT 

Skala maturity dari Framework COBIT 
Maturity model adalah suatu metode untuk mengukur level pengembangan manajemen proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT yang. Sebagai contoh adalah ada beberapa proses dan sistem kritikal yang membutuhkan manajemen keamanan yang lebih ketat dibanding proses dan sistem lain yang tidak begitu kritikal. Di sisi lain, derajat dan kepuasan pengendalian yang dibutuhkan untuk diaplikasikan pada suatu proses adalah didorong pada selera resiko Enterprise dan kebutuhan kepatuhan yang diterapkan.
Penerapan yang tepat pada tata kelola TI di suatu lingkungan Enterprise, tergantung pada pencapaian tiga aspek maturity (kemampuan, jangkauan dan kontrol). Peningkatan maturity akan mengurangi resiko dan meningkatkan efisiensi, mendorong berkurangnya kesalahan dan meningkatkan kuantitas proses yang dapat diperkirakan kualitasnya dan mendorong efisiensi biaya terkait dengan penggunaan sumber daya TI.

Maturity model dapat digunakan untuk memetakan :
1. Status pengelolaan TI perusahaan pada saat itu.
2. Status standart industri dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
3. Status standart internasional dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
4. Strategi pengelolaan TI perusahaan (ekspetasi perusahaan terhadap posisi pengelolaan TI perusahaan)

Tingkat kemampuan pengelolaan TI pada skala maturity dibagi menjadi 6 level :
1. Level 0 (Non-existent)
Perusahaan tidak mengetahui sama sekali proses teknologi informasi di perusahaannya.
2. Level 1 (Initial Level)
Pada level ini, organisasi pada umumnya tidak menyediakan lingkungan yang stabil untuk mengembangkan suatu produk baru. Ketika suatu organisasi kelihatannya mengalami kekurangan pengalaman manajemen, keuntungan dari mengintegrasikan pengembangan produk tidak dapat ditentukan dengan perencanaan yang tidak efektif, respon sistem. Proses pengembangan tidak dapat diprediksi dan tidak stabil, karena proses secara teratur berubah atau dimodifikasi selama pengerjaan berjalan beberapa form dari satu proyek ke proyek lain. Kinerja tergantung pada kemampuan individual atau term dan variasi dengan keahlian yang dimilikinya. 
3. Level 2 (Repeatable Level)
Pada level ini, kebijakan untuk mengatur pengembangan suatu proyek dan prosedur dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut ditetapkan. Tingkat efektif suatu proses manajemen dalam mengembangankan proyek adalah institutionalized, dengan memungkinkan organisasi untuk mengulangi pengalaman yang berhasil dalam mengembangkan proyek sebelumnya, walaupun terdapat proses tertentu yang tidak sama. Tingkat efektif suatu proses mempunyai karakteristik seperti; practiced, dokumentasi, enforced, trained, measured, dan dapat ditingkatkan. Product requirement dan dokumentasi perancangan selalu dijaga agar dapat mencegah perubahan yang tidak diinginkan. 
4. Level 3 (Defined Level)
Pada level ini, proses standar dalam pengembangan suatu produk baru didokumentasikan, proses ini didasari pada proses pengembangan produk yang telah diintegrasikan. Proses-proses ini digunakan untuk membantu manejer, ketua tim dan anggota tim pengembangan sehingga bekerja dengan lebih efektif. Suatu proses yang telah didefenisikan dengan baik mempunyai karakteristik; readiness criteria, inputs, standar dan prosedur dalam mengerjakan suatu proyek, mekanisme verifikasi, output dan kriteria selesainya suatu proyek. Aturan dan tanggung jawab yang didefinisikan jelas dan dimengerti. Karena proses perangkat lunak didefinisikan dengan jelas, maka manajemen mempunyai pengatahuan yang baik mengenai kemajuan proyek tersebut. Biaya, jadwal dan kebutuhan proyek dalam pengawasan dan kualitas produk yang diawasi. 
5. Level 4 (Managed Level)
Pada level ini, organisasi membuat suatu matrik untuk suatu produk, proses dan pengukuran hasil. Proyek mempunyai kontrol terhadap produk dan proses untuk mengurangi variasi kinerja proses sehingga terdapat batasan yang dapat diterima. Resiko perpindahan teknologi produk, prores manufaktur, dan pasar harus diketahui dan diatur secara hati-hati. Proses pengembangan dapat ditentukan karena proses diukur dan dijalankan dengan limit yang dapat diukur.
6. Level 5 (Optimized Level)
Pada level ini, seluruh organisasi difokuskan pada proses peningkatan secara terus-menerus. Teknologi informasi sudah digunakan terintegrasi untuk otomatisasi proses kerja dalam perusahaan, meningkatkan kualitas, efektifitas, serta kemampuan beradaptasi perusahaan. Tim pengembangan produk menganalisis kesalahan dan defects untuk menentukan penyebab kesalahannya. Proses pengembangan melakukan evaluasi untuk mencegah kesalahan yang telah diketahui dan defects agar tidak terjadi lagi.

Sunday, March 20, 2016

Teknologi Sistem yang telah menggunakan Manajemen Layanan SI

1.       Contoh Teknologi/system yang telah menggunakan Manajemen Layanan SI?

Go-Glam
Layanan ini menyasar kaum hawa yang kerap membutuhkan perawatan dan layanan dari salon, tapi tidak memiliki waktu karena kesibukan beraktivitas. Layanan yang disediakan mulai dari pangkas rambut, manicure-pedicure, sampai make up. Cocok juga untuk kamu yang akan menghadiri pernikahan atau event penting lain seperti wisuda.
Go-Clean
Sesuai namanya, layanan ini merupakan jasa bersih-bersih baik hunian pribadi maupun kantor. Paket yang disediakan pun beragam, mulai dari sekadar menyapu dan mengepel, membersihkan kamar mandi, mencuci perabotan dapur, sampai membersihkan kamar mandi. Bila kamu baru saja menggelar pesta atau acara kumpul-kumpul di rumah dan tidak sempat bersih-bersih, layanan ini cukup menarik untuk dicoba.
Go-Massage
Hanya dengan membaca sekilas namanya, pasti kamu sudah menebak bila layanan ini merupakan layanan pijat by request. Kamu bisa memilih beragam jenis pijat, mulai dari refleksi sampai beragam pijat kesehatan lainnya.
Merekrut dua dara
Saat ini, tiga layanan Go-Jek berbau gaya hidup ini berada di bawah Co-Head Windy Natriavi dan Dayu Dara Permata. “Mereka adalah konseptor yang melahirkan ide-ide dari layanan baru Go-Jek”, lanjut Yovita.

Salah satu alasan dipilihnya wanita sebagai leader yang menggawangi tiga layanan ini adalah karena sebagian produk yang dihadirkan Go-Jek membidik pasar kaum hawa sebagai konsumen utama mereka.

Bidik pengguna kelas atas
Berbeda dengan Go-Ride (booking ojek) yang membidik segala kalangan pengguna smartphone, Go-Clean, Go Glam, dan Go-Massage justru membidik pengguna kelas atas. “Tarif yang dikenakan untuk tiap-tiap layanan berkisar dari Rp60.000 sampai Rp200.000,” jelas Yovita.

Untuk mendapatkan pengguna dari segmen yang berbeda ini, Go-Jek jelas harus menerapkan sejumlah strategi. “Salah satunya dengan pendekatan ke komunitas, juga sejumlah event offline yang cocok,” katanya.

Terkait keamanan dan kualitas service, layaknya Go-Ride, untuk bisa bergabung menjadi staf ketiga layanan baru ini juga harus melalui sejumlah tes. “Kami tidak sembarangan merekrut orang. Kesemuanya sudah diketahui latar belakangnya, pengalaman, dan tingkat kompetensinya,” lanjut Yovita.

Pihak Go-Jek sendiri menjamin privasi pengguna akan tetap terjaga dengan adanya evaluasi dan layanan konseling secara berkala bagi setiap stafnya. Saat ini, ketiga layanan ini baru memiliki 750 staf dan baru beroperasi di Jabodetabek saja. “Karena masih soft launching, kami baru memiliki 750 staf. Namun di awal tahun 2016 kami menargetkan ada 5.000 staf,” ujar Yovita.


Berbarengan dengan soft launching ketiga layanan yang berhubungan dengan gaya hidup ini, Go-Jek juga meluncurkan Go-Box, layanan untuk memesan mobil pickup, mobil boks, truk engkel dan truk engkel boks untuk antar maupun kirim barang dalam jumlah besar. Bila kamu menggunakan layanan Go-Box, saat ini kamu bisa menikmati potongan harga sebesar 20 persen hingga 5 November 2015 mendatang.

ITIL ( Information Technology Infrastructure Library )

1.       Jelaskan apa yang dimaksud dengan ITIL? (Information Technology Infrastructure Library)?

JAWAB :

Information Technology Infrastructure Library (ITIL) adalah suatu rangkaian dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan (TI). Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya.

ITIL memberikan deskripsi detil tentang beberapa praktik (TI) penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi (TI).
Walaupun dikembangkan sejak dasawarsa 1980-an, penggunaan ITIL baru meluas pada pertengahan 1990-an dengan spesifikasi versi keduanya (ITIL v2) yang paling dikenal dengan dua set bukunya yang berhubungan dengan ITSM (IT Service Management), yaitu Service Delivery (Antar Layanan) dan Service Support (Dukungan Layanan).

Pada awalnya ITIL adalah serangkaian lebih dari 40 buku pedoman tentang pengelolaan layanan IT yang terdiri dari 26 modul. Perpustakaan besar pertama ini juga dikenal sebagai ITIL 1.0. Antara 2000 dan 2004 disebabkan oleh peningkatan pelayanan yang berkesinambungan dan adaptasi terhadap situasi saat ini dalam lingkungan (TI) modern ITIL 1.0 di rilis besar dan digabungkan menjadi delapan inti manual: ITIL 2.0. Pada awal musim panas 2007 ITIL 3.0 diterbitkan. Ini didirikan struktur yang sama sekali baru. Ini terdiri dari tiga bidang utama:
* ITIL Core Publikasi
* ITIL Pelengkap Bimbingan
* ITIL Web Support Services
Pada 30 Juni 2007, OGC (Office of Government Commerce) menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:

1. Service Strategy
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy.
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
• Service Portfolio Management
• Financial Management
• Demand Management
Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.

2. Service Design
Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
1. Service Catalog Management
2. Service Level Management
3. Supplier Management
4. Capacity Management
5. Availability Management
6. IT Service Continuity Management
7. Information Security Management

3. Service Transition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Transition Planning and Support
2. Change Management
3. Service Asset & Configuration Management
4. Release & Deployment Management
5. Service Validation
6. Evaluation
7. Knowledge Management

4. Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Event Management
2. Incident Management
3. Problem Management
4. Request Fulfillment
5. Access Management

5. Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle

Sebuah perusahaan yang mengimplementasi ITIL secara nyata tentunya mendapat banyak sekali keuntungan, misalnya, pelayanan IT menjadi lebih fokus kepada departemen lainnya di dalam satu perusahaan, biaya lebih efisien dan dapat diatur dengan baik, serta perubahan-perubahan IT yang dapat lebih mudah untuk diatur, dan masih banyak keuntungan lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada income perusahaan itu sendiri.

Apa yang dimaksud dengan MANAJEMEN LAYANAN SI?

1.       Jelaskan apa yang dimaksud dengan Manajemen Layanan SI?
·         Manajemen?
·         Layanan?
·         Sistem Informasi?

JAWAB :

·         Manajemen
 adalah suatu seni dalam ilmu dan proses pengorganisasian seperti perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengendalian atau pengawasan. Dalam pengertian manajemen sebagai seni karna seni berfungsi dalam mengujudkan tujuan yang nyata dengan hasil atau manfaat sedangkan manajemen sebagai ilmu yang berfungsi menerangkan fenomena-fenomena, kejadian sehingga memberikan penjelasan yang sebenarnya.
·         Layanan
adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam interaksi dengan orang atau mesin fisik dan yang memberikan kepuasan konsumen
·         Sistem Informasi

adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi.

Sunday, November 15, 2015

Makalah Tipe dan Bentuk atau Struktur dan Skema Organisasi

                                                        KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Teori Organisasi Umum, mengenai Tipe, Bentuk, Struktur dan Skema Organisasi.
Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan agar kesalahan yang terdapat dalam makalah ini bisa dimaklumi karena kami masih terus belajar untuk membuat makalah agar lebih sempurna. Dan juga makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi kami dan yang membacanya, sehingga, menambah wawasan dan pengetahuan tentang makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.



Jakarta, 10 November 2015

Penyusun




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 3
1.1 Latar Belakang  .......................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................5
2.1 Pengertian Organisasi...................................................................5
2.2 Tipe atau Bentuk Organisasi.........................................................5
2.3 Struktur atau Skema Organisasi..................................................14
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 17
3.1 Kesimpulan ................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 18







                                                                         BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Struktur Organisasi adalah keseluruhan dari tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam fungsi-fungsi yang ada sehingga merupakan suatu kesatuan harmonis, yakni diarahkan dan dikembangkan secara terus menerus pada suatu tujuan tertentu menuju kondisi optimal. Struktur suatu organisasi digambarkan dalam bentuk suatu skema organisasi atau organigram, yaitu suatu lukisan grafis yang menjelaskan berbagai hubungan organisatoris, baik vertikal maupun horizontal, terbagi antar bagian maupun antar individu. Dengan kata lain, organigram memberikan gambaran tentang struktur personalia, yakni penempatan individu-individu pada posisi-posisi yang ada dalam suatu organisasi. Hal ini dimasukkan untuk menentukan siapa-siapa yang memegang tampuk pimpinan, apa dan kepada siapa tugas, wewenang, tanggung jawab, serta posisi diberikan.
Penyusunan struktur organisasi perlu dilandasi oleh ide dan imajinasi yang memungkinkan berkembangnya diri individu yang akan menangani permasalahan organisasi. Analisis faktor-faktor relevan yang berpengaruh terhadap pengaturan rumah tangga perusahaan secara efektif dan efisien, akan melahirkan teori-teori, yang didasarkan pada hipotesis kerja tertentu yang berkenaan dengan pelaksanaan yang efektif dan efisien dari kegiatan organisatoris, termasuk didalamnya mengenai “ perilaku manusia “ dalam organisasi. Teori-teori itu dapat dikelompokkan kedalam konsep-konsep dan cara pendekatan yang berkenaan dengan struktur ( bentuk organisasi ) dan proses-proses ( tata kerja organisasi ).
Struktur menggambarkan kaitan antarorgan dalam suatu organisasi, sedangkan proses menggambarkan kumpulan tahap-tahap kegiatan yang teratur dan saling memiliki ketergantungan. Secara garis besar teori organisasi klasik (tradisional) dan teori organisasi modern. Pada hakikatnya perbedaan antara kedua teori organisasi tersebut tidak terletak pada struktur atau bentuk organisasinya, namun secara hakiki terletak pada sudut pandang mengenai “Perilaku Manusia” dalam organisasi dimana dalam teori organisasi modern, “Kepemimpinan” dapat diterapkan sebaik-baiknya.
Dalam pendekatannya, teori klasik lebih bersifst struktural dan memiliki ciri-ciri tekhnik ekonomis dimana individu akan selalu berusaha memuaskan kebutuhannya secara rasional atau yang secara ekonomis dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, perilaku individu dalam organisasi hanya akan dipengaruhi oleh “Stimulus financial” (Imbalan materi). Jadi, nilai perilaku individu dalam organisasi ditentukan oleh balas jasa upah yang diterimanya ( Individu diibaratkan sebagai “mesin yang berpikir”).
Pada teori klasik, sistem pengupahan yang adil didasarkan kepada besaran produk yang dihasilkan, dapat diukur dan dapat dihitung secara nyata dan ditujukan bagi kepentingan terpenuhinya kebutuhan individu maupun organisasi (bersifat harmonis). Hal ini berarti, makin besar prestasi yang dicapai makin besar upah yang diperoleh para pekerja.
Berdasarkan struktur organisasi dapatlah dibedakan berbagai stel-stel organisasi yang merupakan pola dasar organisasi. Namun, dalam penerapannya pola ini jaraang atau tidak dianut secara murni, melainkan merupakan sesuatu kombinasi dan secara evolusi senantiasa mengalami perubahan didasarkan pada “kondisi objektif” yang dihadapi oleh organisasi tersebut.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Pengertian Organisasi?
Bagaimana tipe atau bentuk pada organisasi?
Bagaimana struktur atau skema pada organisasi?
1.3 TUJUAN MASALAH
Untuk mengetahui pengertian Organisasi.
Untuk mengetahui Tipe atau Bentuk pada Organisasi.
Untuk mengetahui Struktur atau Skema pada Organisasi.





                                                                             BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Organisasi
Organisasi adalah hasil dari penciptaan kerjasama yang efisien antara orang dan alat-alat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam pengertian yang lebih modern, organisasi memiliki makna sebagai keseluruhan hubungan diantar orang-orang yang secara disadari atau tidak, disengaja atau tidak, bekerja sama untuk memajukan kepentingan-kepentingan pribadi mereka melalui pencapaian tujuan tertentu.
2.2 Tipe atau Bentuk Organisasi
Tipe Organisasi Didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal organisasi yang sudah diolah. Struktur ini terdiri dari unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja. Pada saat ini Tipe atau Bentuk Organisasi terdapat 6 bentuk organisasi yang perlu diperhatikan.
ORGANISASI GARIS
Organisasi garis (hierarki) yang di pelopori H.Fayol merupakan stelsel organisasi yang tertua. Ciri khas struktur organisasi ini ialah pelaksanaan perintah berjalan secara vertical mengikuti garis instruksi dari atas ke bawah. Dalam hal ini, setiap perintah di salurkan melalui garis, yang secara keseluruhan membentuk garis fungsionaris.
Pada kenyataannya, pengaturan yang demikian memang amat memadai dalam penyusunan jenjang kegiatan organisasi dan oleh karenanya sering menjadi dasar bagi pengaturan organisasi yang lainnya; Bentuk bagannya seperti terlihat pada gambar 2.1 berikut ini.







PELAKSANA
Gambar 2.1  Bagan organisasi garis(hierarki)
Ciri – ciri utama Organisasi garis adalah :
● Adanya kesatuan pimpinan, yang berarti setiap partisipan dalam organisasi di pimpin oleh seorang pemimpin yang berada langsung di atasnya;
● Adanya hierarki kekuasaan yang jelas, yang berarti setiap individu dalam organisasi adalah pemimpin dari tenaga kerja yang berada di bawahnya, dan menjadi pelaksana terhadap atasannya.
Susunan hierarki kekuasaan ini akan menimbulkan masalah delegasi serta pengaturan yang berkaitan dengan tugas, wewenang, dan pertanggungjawaban. Delegasi adalah”Pelimpahan tugas(wewenang dan tanggung jawab)kepada individu – individu yang ada di bawahnya”, wewenang adalah “Hak atau kekuasaan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, yang di peroleh baik secara hokum, kekuasaan, pengetahuan, ataupun pengalaman”. Pada batas – batas tertentu, dalam suatu wewenang terkandung kesempatan untuk mengembangkan inisiatif atau dengan kata lain individu dapat mengambil suatu tugas yang akan di laksanakan. Pertanggung jawaban berarti dapat dimintai tanggung jawab, dengan kata lain dapat memberikan pembenaran diri atas perbuatan atau situasi yang telah di ciptakannya.
Kaitan diantara delegasi, wewenang, dan tanggung jawab dapat terlihat pada gambar 2.2 berikut ini.

Garis Kekuasaan(Wewenang)                                   Garis Pertanggungjawaban  
  -
  -
  -
  -
  -
   (Delegasi)         (tanggung jawab)
Gambar 2.2 Hubungan delegasi, wewenang dan tanggung jawab
Organisasi garis memiliki kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan, yaitu sebagai berikut:
Kebaikan-Kebaikan:
Strukturnya sederhana, jelas , dan mudah terlihat secara menyeluruh.
Hierarki kekuasaannya jelas serta lebih terpusatnya pengawasan pelaksanaan tugas.
Adanya kejelasan pertanggung jawaban terhadap pelaksanaan tugas.
Pucuk pimpinan senantiasa akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang menyeluruh terhadap orang yang di pimpinnya (yang paling lengkap).
Kelemahan-kelemahan:
Adanya persyaratan bahwa setiap perintah dan laporan (pertanggungjawaban) harus menempuh hierarki kekuasaan yang biasanya panjang, sehingga dapat menimbulkan kekakuan dan birokratisme;
Pimpinan yang otokratis akan mudah menghambat kegiatan-kegiatan yang inovatif dan bawahan;
Melimpah dan beraneka-ragamnya pekerjaan akan menimbulkan beban kerja secara berlebihan pada pucuk pimpinan;
Tidak adanya hubungan horizontal, akan menimbulkan kesulitan untuk melakukan koordinasi diantara setiap bagian yang setingkat. Untuk memecahkan masalah ini diadakan hubungan paralel (passerelle) yang memungkinkan terlaksananya hubungan horizonntal (secara insidental) atas sepengetahuan pucuk pimpinan.
Perlu diperhatikan disini bahwa pemusatan pengawasan oleh pucuk pimpinan memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam “daya jangkau” dan “daya penanganan’.
Daya jangkau pemimpin melliputi para bawahan yang langsung dipimpinnya, sedangkan daya penanganan meliputi kemampuan pimpinan dalam mengarahkan para bawahannya secara efektif dan efisien. Dahulu, dalam kaitannya dengan organisasi garis ini, perhatian orang dicurahkan terutama pada dimensi horizontal yang berkenaan dengan aspek scope of control, namun dewasa ini dimensi vertikal mendapat perhatian pula berkenaan dengan sampai sejauh mana pimpinan mampu mengatur dan mempengaruhi kegiatan organisasi melalui hierarki kekuasaan yang ada. Ini berarti pencurahan perhatian pada “aspek komunikasi”.
Jelaslah disini bahwa faktor-faktor seperti volume dan sifat pekerjaan, diferensiasi atau spesialisasi kegiatan organisasi memegang peranan penting dalam memcahkan masalah keterbatasan daya penanganan. Untuk menghilangkan keterbatasan daya penanganan pimpinan, dapat dilakukan penyesuaian struktur organisasi sebagai berikut :
Menyisipkan satu tingkat pimpinan baru;
Menempatkan seorang asisten dalam hierarki kekuasaan yang berfungsi melaksanakan tugas pimpinan;
Memperluas struktur organisasi baik kedalam bentuk “fungsional” maupun ke dalam bentuk “garis dan staf”.

ORGANISASI FUNGSIONAL
F.W Taylor dapar dianggap sebagai penemu organinsasi fungsional yang dikenal juga dengan scientific management. Pengaturan organisasi fungsional ini dibangun oleh Taylor beranjak dari pengamatannya terhadap kelemahan-kelemahan organisasi garis yang bersifat kaku serta yang berkaitan dengan msalah daya penanganan. Tugas pimpinan menjadi terlalu luas serta mengandung keanekaragaman jenis dan nilai pekerjaan. Tidak seperti halnya Fayol, pengaturan organisasi yang dibangun oleh Taylor memusatkan pendekatannya pada pimpinan ditempat-tempat kerja (apa yang disebut shop management). Jadi, Taylor lebih memusatkan pendekatannya pada tingkat bawah organisasi dan hasil-hasil penemuan penelitian ilmiahnya dikenal dengan time and motion study (studi waktu dan gerak) dan material study (studi penggunaan bahan).
Ciri-ciri dari organisasi fungsional adalah sebagai berikut :
Adanya pemisahan antara pimpinan bagian perencanaan (planning) dan pelaksanaan (ditempat kerja), dengan tujuan membebaskan mandor kerja dan mandor kelompok dari pekerjaan-pekerjaan administratif.
Adanya hubungan langsung antara bagian perencanaan dan petugas pelaksana, sehingga setiap petunjuk dan pengarahan dapat disampaikan langsung kepada para pelaksana tanpa melalui pimpinan pelaksanaan.
Adanya pembagian tugas pimpinan yang berkaitan dengan pengawasan pelaksanaan pekerjan.
Sistem Taylor dapat dikategorikan sebagai diferensiasi horizontal berdasarkan fungsi-fungsi yang ada, dimana struktur organisasi deikelompokkan kedalam :
a. Tiga orang mandor perencana yang terdiri :
Penyiap kerja (order of work and route lerk/OR) yang bertugas menetapkan tahap-tahap pelaksanaan kerja seperti urutan kerja, mesin-mesin, dan bahan-bahan yang diperlukan;
Penulis kartu kerja (instruction card clerk/IC), yang bertugas menyusun kartu-kartu instruksi (Uraian tugas) secara terinci berdasarkan rencana kerja yang telah disusun
Penghitung waktu dan biaya (time and cost clerk/TC) yang bertugas menetapkan biaya-biaya berdasarkan waktu kerja dan penggunaan faktor-faktor produksi.
b. Empat orang mandor pelaksana yang terdiri dari:
Mandor kelompok (gangboss/GB), yang bertugas melaksanakan segala persiapan bagi kelancaran jalanannya produksi seperti mempersiapkan mesin-mesin dan penyediaan bahan-bahan;
Mandor pelaksana kerja (speedboos/SB), yang bertugas memimpin jalannya pekerjaan, memberikan penjelasan yang diperlukan dan terutama mengawasi kecepatan jalannya pekerjaan;
Inspektur (inspector/IN), yang bertugas memperhatikan kualitas produk;
Mandor pemeliharaan (repairboss/RB), yang bertugas memelihara dan memperbaiki peralatan pabrik.
Disamping ketujuh mandor tersebut terdapat pula mandor tata-tertib kerja (disciplinarian) yang bertugas disamping mengawasi ketertiban dan kelancaran jalannya pekerjaan, juga memberikan saran dalam penerimaan kerja. Dengan kata lain, ia berfungsi sebagai penanggung jawab umum dalam hal yang berkaitan dengan kepegawaian, baik pada bagian perencanaan maupun bagian pelaksaa, karenanya seperti terlihat pada Gambar 2.3 ia berfungsi sebagai “mediator” dari kepala bagian.








................................................................... Pelaksana

Gambar 2.3 Bagan struktur organisasi fungsional
Sistem organisasi fungsional ini menurut Taylor telah gagal dalam mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada organisasi garis disebabkan oleh prinsip-prinsip analisis kerjanya lebih ditujukan untuk mengelompokkan daripada mengintegrasikan pelaksaan kerja. Memang, kegiatan perencanaan dan pelaksaan pada hakikatnya merupakan bagian tersebut dari suatu tugas tertentu, namun secara organisatoris konsekuensi yang akan dihadapi dengan memisahkan kegiatan pimpinan ke dalam tugas-tugas tertentu, pada umunya akan menimbulkan masalah koordinasi yang dulit diatasi.
Namun demikian, sistem Taylor ini telah merangsang ide-ide dalam menangani organisasi. Dalam hal pelaksaan teknis seperti penggunaan kartu-kartu instruksi, telah memeperlihatkan hasil yang memuaskan. Di sini dari bagian perencanaan para pekerja menerima kartu-kartu dimana mereka harus “mencatat” awal dan akhir pelaksaan suatu tugas tertentu dan bahan-bahan yang telah dipergunakan, yang semuanya ini akan dijadikan dasar bagi perhitungan harga pokok. Selanjutnya, dalam hal pengorganisasian kegiatan prodiksi, telah diterpakan berbagai stelsel dimana hubungan fungsional lebih jelas terlihat seperti apa yang tampakn pada gambar 2.4 .










Gambar 2.4 bagan organisasi fungsional kegiatan produksi
Kebaikan dari pengaturan organisasi fungsional adalah dimungkinkannya pembagian kerja didasarkan tingkat spesialisasi ini antara lain meliputi:
Tidak adanya kesatuan perintah yang mengakibatkan pengambilan keputusan dan pengawasan kurang teramati secara menyeluruh;
Ketidakjelasan dalam pembagian tugas secara fungsional akan menghambat kelancaran organisasi
Terlalu menekan inisiatif yang datang dari para pelaksana.

ORGANISASI GARIS DAN STAF
Agar kesatuan perintah dapat dipertahankan, serta daya penanganan pimpinan dapat diperluas, H. Emerson telah menyusun stelset organisasi garis dan staf, yakni suatu organisasi garis yang dilengkapi dengan staf ahli, yang disusun sebagai fungsionaris staf.


Bagan organisasi garis dan staf
Organisasi garis dan staf memiliki pula kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan, yaitu sebagai berikut:
Kesatuan perintah dapat terus dipertahankan;
Para fungsionaris garis dapat mencurahkan perhatiannya pada beberapa aspek tertentu yang dianggap penting.
Kelemahan-kelemahannya, antara lain:
Tidak tertutup kemungkinan para staf ahli bertinda diluar batas kewenangan sebagai pemberi nasihat, terutama dalam menangani hal-hal yang sangat spesifik dan kompleks, akan mengakibatkan fungsionaris staf dapat berperan sebagai fungsionaris garis;
Ada kemungkinan nasihat-nasihat yang diberikan bersifat terlalu teoritis sehingga sulit untuk bisa diterapkan, terutama dalam kondisi dimana fungsionaris garis selalu ingin mengukuhkan otoritasnya, sehingga para staf ahli terpaksa memberian dukungan dengan menyampaikan abstraksi teoritisnya.
Untuk mengatasi permasalahan pada butir pertama diatas, disini wewenang staf dapat dialihkan menjadi wewenang fungsional terhadap fungsionaris garis. Keadaan ini terutama didorong dalam menghadapi situasi yang kompleks, dibutuhkannya pengetahuan yang spesifik yang dalam praktiknya sering terjadi bila bagian tertentu organisasi dirasakan kegunaannya oleh yang lainya (bagian personalia dan administrasi pusat). Dalam hal ini, wewenang fungsional mengandung dua aspek, yaitu:
Kewajiban untuk memberikan saran-saran tanpa diminta terlebih dahulu;
Hak untuk memberikan instruksi (yang dianggap mendesak) bagi pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan tertentu kepada individu-individu atau bagian-bagian yang tidak secara langsung berada dbawah kewenangannya, seperti adanya instruksi mengenal ketentuan untuk melaksanakan kebijakan atau cara kerja tertentu dalam rangka mencapai suatu uniformitas pelaksanaan kerja.

Perlu diperhatikan pola dalam wewenang fungsional ini, para staf hanya bertanggung jawab terhadap “mutu” dari instruksi yang diberikan dan berkaitan dengan pelaksana pekerjaan dari instruksi tersebut. Jika penggunaan wewenang fungsional ini acapkali diterapkan, maka hal ini disebut sebagai stelsel organisasi garis dan staf fungsional. Seperti terlihat pada gambar berikut:


SISTEM KOMITE
Sejalan dengan semakin bertambahnya permasalahan kompleksitas organisasi yang diikuti dengan bertambahnya jumlah para fungsionaris garis dan staf (fungsional), maka timbulah kebutuhan perlunya musyawarah bersama dimana situasi dan kondisi yang ada dalam stelsel-stelsel yang telah dibahas dapat diperbaiki sehingga perkembangan organisasi dapat direncanakan dengan lebih baik lagi.
Musyawarah bersama dilaksanakan dalam bentuk komite atau komisi yang bertugas membahas permasalahan organisasi, atau menentukan kebijakan dalam meghadapi situasi tertentu, baik secara periodik maupun pada masa-masa kritis atau insidentil. Komisi-komisi ini pada hakikatnya tidak merupakan stelsel yang berfungsi mandiri, namun melalui jangka waktu panjang dapat memiliki pola struktur tertentu. Komisi-komisi ini dapat berbentuk antara lain:
Kelompok kerja yang terdiri dari individu-individu dari berbagai fungsi organisasi untuk pengambilan keputusan bersama. Kelompok kerja ini dapat disusun secara horizontal (pada tingkat hierarki yang sama), vertikal (pada tingkat hierarki yang berbeda) ataupun kombinasi dari keduanya.
Kelompok studi yang dibentuk secara temporer dan bertugas meneliti masalah-masalah tertentu yang sudah diagendakan, untuk kemudian diajukan pada pimpinan dalam bentuk saran-saran.
Kelompok penghubung yang bertugas untuk memperbaiki dan meningkatkan koordinasi pelaksanaan pekerjaan dari berbagai bagian, misalnya komisi produk.
Kelompok instruksi yang bertugas menyusun kelompok-kelompok instruksi dengan maksud mempersiapkan para pegawai memasuki sistem kerja otomatisasi.
Kelompok pengarah atau komisi proyek yang sering ditemui jika perusahaan ingin mengubah sistem pekerjaan (otomatisasi), sistem organisasi (reorganisasi) maupun perluasan organisasi intern-ekstern
Istilah “komisi” dalam organisasi masih memiliki citra yang kurang baik, terutama akhir-akhir ini banyak orang yang menganggap pembentukan komisi hanyalah sekedar dalih untuk mengalihkan perhatian orang dari permasalahan yang sesungguhnya. Namun demikian, hal ini sangat bergantung pada apa yang diharapkan atau dituju organisasi “komisi” tersebut.
Agar sistem komisi dapat berfungsi dengan baik, ada beberapa persyaratan pokok yang perlu dipenuhi, yakni:
Tujuan komisi harus diuraikan dengan jelas.
Adanya pembatasan kelompok yang jelas.
Komposisi anggota kelompok harus seimbang serta jumlahnya dibatasi (5-7 orang).
Adanya tenaga inti yang tetap dalam kelompok.
Sistem komisi mengandung pula kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan, yaitu sebagai berikut:
Kebaikan-kebaikannya antara lain:
Memperluas wawasan analisis.
Meningkatkan koordinasi dan kontinuitas organisasi.
Memberikan peluang penanganan masalah yang lebih ke integrasi.
Kelemahan-kelemahannya antara lain:
Adanya peningkatan biaya.
Terlalu banyak kompromi oleh karenanya, secara periodik efektivitas musyawarah perlu dievaluaso.

ORGANISASI MATRIKS
Sistem organisasi yang dibangun berdasarkan struktur komisi secara terus-menerus dikenal dengan nama “organisasi matriks” dan umumnya dijumpai pada badan-badan usaha yang memiliki beberapa satuan kegiatan produksi yang bersifat otonom. Tujuan pokok dari organisasi matriks adalah untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada dalam stelsel organisai garis sebagai akibat “langkanya” koordinasi antarbagian, terutama dalam kegiatan proses produksi.
Pada sistem matriks ini, disamping sebagaimana biasanya  secara vertikal struktur organisasi disusun berdasarkan pemilahan fungsi-fungsi yang ada (diferensiasi), juga secara horizontal diadakan jaringan hubungan tetap antar fungsionaris yang bertanggung jawab terhadap produk-produk atau proyek-proyek tertentu. Disamping itu, mudah terjalin “alih pengetahuan dan pengalaman” dari satu proyek ke proyek lain.
Dengan demikian, sistem ini memiliki bentuk seperti halnya pada model matriks ilmu pasti yang menggambarkan hubungan-hubungan sejumlah faktor tertentu yang terdapat dalam kaitan ini. Di satu pihak menggambarkan diferensiasi fungsional, dan dipihak lain terdapatnya keterlibatam para ahli dalam penanganan proyek atau produk tertentu.
Pimpinan proyek dalam melaksanakan tugasnya meminta bantuan individu-individu yang berada pada bagian fungsional (walaupun tidak seluruhnya). Dengan demikian, individu-individu tersebut yang terlihat dalam kelompok proyek ini memiliki dua atasan, yakni pimpnan proyek (diproyek) dan pimpinan fungsionaris (dibagian). Dalam hal ini kejelasan wewenang dan tanggung jawab setiap pihak sangat diperlukan agar terciptanya kelancaran kerja. Sistem matriks mengandung pula kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut:
Kebaikan-kebaikannya antara lain :
Adanya fleksibilitas, dimana stelsel ini dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan volume kesibukan organisasi dalam mengelola proyek-proyeknya.
Penempatan tenaga fungsional dapat lebih terkoordinasi dengan lebih baik.
Proses pengambilan keputusan dapat dilaksanakan dengan cepat.
Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dan pengeluaran biaya dapat lebih terkendali.
Kelemahan utamanya adalah tidak adanya kesatuan perintah. Namun, pada hakikatnya tidak ada satu pun stelsel organisasi yang dapat berfungsi sebagai alat pemecahan masalah jika tidak didukung oleh kesiapan dan kesediaan para partisipannya.
2.3 Struktur atau Skema Organisasi

Struktur organisasi adalah sekumpulan komponen-komponen (unit-unit kerja) yang telah disusun dalam organisasi. Struktur organisasi berguna untuk menunjukkan adanya beberapa pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda agar bisa dikoordinasikan . Selain itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.

Struktur Organisasi juga merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi, yang berhubungan dengan fungsi, wewenang dan tanggung jawab untuk mencerminkan mekanisme-mekanisme formal pada pengelolaan organisasi

Menurut Keith Davis ada 6 bagan bentuk struktur organisasi yaitu :

1.Bentuk Vertikal

Dalam bentuk ini, sistem organisasi pimpinan sampai organisasi atau pejabat yang lebih rendah digariskan dari atas ke bawah secara vertikal.

2.Bentuk Mendatar / Horizontal

Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun atau digariskan dari kiri kea rah kanan atau sebaliknya.

3.Bentuk Lingkaran

Dalam bentuk lingkaran, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinana sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran ke aarah bidang lingkaran.

4.Bentuk Setengah Lingkaran

Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah disusun dari pusat lingkaran kea rah bidang bawah lingkaran atau sebaliknya

5.Bentuk Elliptical

Dalam bentuk ini, saluran wewenangnya dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi atau pejabat yang terendah digambarkan dengan pusat Elips kearah bidang elips

6.Bentuk Piramid terbalik

Dalam bentuk ini, saluran wewenang dari pucuk pimpinan sampai dengan organisasi atau pejabat terendah digambarkan dalam susunan berbentuk piramid terbalik.
Skema atau bagan organisasi adalah suatu lukisan tentang organisasi yang dimaksudkan untuk menggambarkan susunan dari organisasi baik mengenai fungsi, bidang, tingkatan maupun rentang kendalinya.

Macam-macam Skema Organisasi:

1. Skema Organisasi Fungsional: Dalam skema organisasi fungsional, menjelaskan tentang letak dari fungsi-fungsi tugas dalam hubungannya dengan fungsi-fungsi yang lain.

2. Skema Organisasi Jabatan Dalam skema organisasi jabatan, menjelaskan tentang garis wewenang yang harus dianut sesuai dengan jabatan masing-masing.

3. Skema Organisasi Nama Dalam skema organisasi nama, menjelaskan tentang garis wewenang yang harus dianut sesuai dengan nama-nama para pejabat yang bersangkutan.

4. Skema Organisasi Nama dan Jabatan Dalam skema organisasi nama dan jabatan, menggabungkan antara masing-masing jabatan dengan masing-masing nama para pejabat dalam suatu organisasi.

5. Skema Organisasi Struktur Dalam skema organisasi truktur, menjelaskan tingkatan jenjang antara unit-unit dalam organisasi tersebut

Berdasarkan teknik atau cara membuatnya:

1. Skema organisasi Tegak Lurus dari atas kebawah
2. Skema organisasi Mendatar dari kiri kekanan
3. Skema organisasi gabungan Tegak Lurus dan Mendatar
4. Skema Organisasi Lingkaran
5. Skema Organisasi Gambar





                                                                                 BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KESIMPULAN
Organisasi adalah hasil dari penciptaan kerjasama yang efisien antara orang dan alat-alat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam pengertian yang lebih modern, organisasi memiliki makna sebagai keseluruhan hubungan diantar orang-orang yang secara disadari atau tidak, disengaja atau tidak, bekerja sama untuk memajukan kepentingan-kepentingan pribadi mereka melalui pencapaian tujuan tertentu.
Tipe Organisasi Didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal organisasi yang sudah diolah. Struktur ini terdiri dari unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja.
Struktur organisasi adalah sekumpulan komponen-komponen (unit-unit kerja) yang telah disusun dalam organisasi. Struktur organisasi berguna untuk menunjukkan adanya beberapa pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda agar bisa dikoordinasikan . Selain itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.






















DAFTAR PUSTAKA

Widyatmini & Izzati A, Pengantar Organisasi & Metode, Jakarta: Gunadarma, 1996.
Prof. Dr. Faisal Afiff, Spec. Lic. Prof. Dr. R. Paemeleire. L. Uytterschaut, Seluk Beluk Organisasi Perusahaan Modern, Bandung: PT Eresco, 1994.










Saturday, October 17, 2015

Organisasi yang diikuti Di Lingkungan Tempat Tinggal



Mengikuti organisasi di sekolah saya pernah, begitupun juga organisasi dirumah. Sudah 2 tahun ini saya terlibat dalam suatu organisasi di lingkungan rumah saya pada saat perayaan 17 Agustus. Saya menjadi panitia 17 Agustusan. Dalam organisasi ini saya mendapat tugas sebagai bendahara dan seksi dokumentasi. Tugas dari seorang  bendahara adalah mengatur dan mencatat segala pemasukan dan pengeluaran yang diperlukan untuk perayaan 17 Agustusan di lingkungan rumah saya, dan juga saya yang membeli seluruh keperluan lomba, hadiah dll dari uang yang didapatkan dari warga yang setiap bulannya membayar uang iuran wajib RT, tugas saya selanjutnya adalah saya juga ikut serta terlibat dalam pembuatan proposal. Lalu tugas dari seksi dokumentasi adalah mendokumentasikan seluruh rangkaian acara dari acara dimulai sampai acara selesai dilaksanakan. Saya memfoto seluruh momen yang terjadi saat acara 17 Agustusan.
Sebelum acara perayaan 17 Agustusan dilaksanakan, seluruh panitia sering mengadakan rapat tentang bagaimana acara dilaksanakan agar perayaan 17 Agustusan berjalan dengan lancar, tertib dan seru. Kurang lebih selama satu bulan sebelum perayaan 17 Agustusan dimulai kami para panitia sudah sibuk menyiapkan seluruh rangkaian acara. Dari berorganisasi seperti ini, sebenarnya saya mendapatkan banyak sekali manfaat. Pertama, saya jadi mengerti bagaimana suatu acara dimulai tanpa adanya pengurus. Kedua, saya bisa bertukan fikiran dengan pengurus yang lain. Ketiga, saya mendapatkan banyak teman. Jadi menurut saya, organisasi itu sangat penting dijalankan karena mempunyai banyak sekali manfaat dalam kehidupan kita, untuk menambah teman, wawasan dan juga organisasi berguna didunia pekerjaan.

Berikut adalah foto-foto yang saya abadikan saat perayaan 17 Agustus