Sunday, March 22, 2015

Ilmu Budaya Dasar yang dihubungkan dengan Puisi

Ayah

Ayah..
Beribu kata telah kau ucapkan..
Beribu cinta tlah kau berikan ..
Beribu kasih telah kau curahkan..
Hanya untuk anak mu..

Ayah..
Kau ajarkan ku tentang kebaikan..
Kau tunjukan ku tentang arti cinta..
Kau jelaskan ku tentang makna kehidupan..
Dan kau mendidik ku dengan sungguh kasih sayang..

Ayah..
Betapa mulianya hati mu..
Kau korbankan segalanya demi anak mu..
Kau banting tulang hanya untuk anak mu..

Kini ku berjanji untuk semua kerja keras mu..
Ku berjanji untuk semua kasih sayang mu..
Dan ku berjanji untuk ketulusan hati mu..
Bahwa aku akan selalu menjaga mu..
Aku akan selalu menyayangi mu hingga akhir hiup ku..

Terima kasih ayah untuk semua kasih sayang mu..

SAHABAT



            Cantik, putih, langsing, tinggi itu adalah tipe wanita yang diidam-idamkan oleh pria di penjuru dunia. Ya memang, apabila semua itu ada di diri kita pasti banyak sekali lelaki yang berebut untuk mendapatkan kita. Tapi beda hal nya dengan ku. Aku memiliki kulit berwarna hitam, gendut, tidak cantik, rambutku megar seperti singa dan aku tidak pintar. Semua cowo disekolahku pasti selalu mengejekku. Bahkan teman-temanku yang perempuan pun juga harus berfikir dua kali untuk berteman dengan ku. Aku sendiri heran, sebenarnya apa yang salah dengan kondisi ku yang seperti ini, ini semua kan pemberian dari Allah. Ya tapi aku sadar diri, ini adalah hukum alam. Yang jelek pasti akan selalu tersingkir.
                Namaku Kirana Cantika, tapi aku tidak cantik sama sekali walaupun namaku “Cantika”. Sekarang aku kelas 2 SMA. Disekolah aku hanya  mempunyai seorang teman yang benar-benar menerimaku apa adanya. Dia adalah Nita. Nita itu cantik, putih, langsing, dan banyak banget cowo-cowo yang mencocba mendekati dia. Dan pasti cowo-cowo pada heran dan bertanya-tanya kenapa seorang Nita yang cantik jelita mau berteman denganku. Nita pernah bilang, katanya bagaimanapun kondisi aku, dia bakal tetap menganggapku sebagai sahabatnya. Aku benar-benar tidak menyangka seorang Nita mau menganggapku sebagai sahabatnya.
                Sampai hari itu pun datang. Jujur, selama 16 tahun aku hidup di bumi ini, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Jelas saja, siapa yang mau denganku kalau aku seperti ini. Melirikpun saja mungkin mereka ogah. Jadi ceritanya, ada murid baru dikelasku. Dia pindahan dari Aceh. Menurutku dia ganteng, cerdas, dan kelihatannya dia anak baik-baik. Namanya Daffa. Diam-diam aku mengagumi dia. Pernah waktu itu aku nggak sengaja lagi ngeliatin dia nulis, tiba-tiba matanya mengarah kepadaku juga. Yaampun! Rasanya malu banget.
                “Semuanya, sekarang Ibu akan membagikan kelompok untuk kalian. Kelompok I Kirana.... Terus Ayu.. Nita....hmm siapa lagi ya? Oh ya, Daffa kamu masuk ke kelompok satu ya. Kalian bikin percobaan tentang pernafasan ya.” Sahut bu Ami. Apa??? Aku sekelompok sama Daffa? Rasanya seperti mimpi. Seneng banget rasanya. Mulai dari situ, aku jadi suka ngobrol sama Daffa untuk membicarakan tentang tugas kelompok kami. Berhubung ini pelajaran Biologi, dan aku sangat suka Biologi makanya aku menjadi ketua kelompok. Kami berempat sepakat untuk mengerjakan tugas ini dirumahku pada hari Minggu nanti. Ternyata Daffa tinggal tidak jauh dari rumahku, jadi kalau pulang sekolah aku suka diajak pulang bareng sama dia. Ini beneran? Seorang Daffa yang banyak dikagumin cewe-cewe disekolah ngajak aku pulang bareng??? Iya ini beneran. Semua ini bukan mimpi. Jelas, aku ngga bakal melewatkan kesempatan emas ini. Setiap hari aku makin semangat untuk masuk sekolah. Alasannya jelas, karena aku ingin menatap Daffa lebih lama.
                Bel sekolah pun berdering. “Duh Nita mana ya? Kok dia  gaada? Apa dia dikamar mandi kali ya. Aku coba kesana deh” Sahutku. Saat aku berjalan mendekati kamar mandi sekolah, tiba-tiba aku melihat Nita dan Daffa sedang duduk dipinggir lapangan berdua. Rasanya hancur sekali melihat mereka berdua seperti itu. “Iya jelas, Daffa ngga mungkin suka sama aku. Dia pasti suka nya sama Nita. Nita kan cantik, sedangkan aku??”fikir ku. Mulai saat itu, aku sudah putus asa terhadap Daffa. Aku yakin sekali kalau Daffa menyukai Nita. Daffa juga sudah tidak pernah lagi mengajakku pulang bareng. Aku jadi lebih suka menyendiri. Melihat perubahanku ini, Nita bertanya padaku. “Kirana, kamu kenapa sih kok sekarang jadi sedih terus?” Tanya Nita. Aku membalas pertanyaannya hanya dengan senyum, lalu aku pergi meninggalkan Nita. Janggal  memang rasanya aku melakukan ini kepada Nita. Rasanya aku marah sekali kepada dia. Kenapa mesti Nita yang cantik? Kenapa Daffa mesti sama Nita? Kenapa kesempatan itu ngga pernah dikasih Allah buat aku? Kenapa?!
                Nita mulai menyadari perubahan Kirana terhadapnya. Akhirnya dia mendekati Kirana dan membicarakan semuanya. “Rana, aku tau kok kamu kaya gini sama aku gara-gara apa.”Sahut Nita. Kirana hanya terdiam. “Kamu suka kan sama Daffa?”Tanya Nita. Kirana tertegun dan mulai meneteskan air matanya. “Nit, kalau kamu udah tau kenapa kamu masih jahat sama aku? Kenapa kamu ambil kebahagiaan aku itu? Kenapa Nit?!” Teriak Kirana. “Loh kamu nih ngomong apa sih Na? Aku bener-bener ngga ngerti. Aku sama Daffa tuh ngga ada hubungan apa-apa. Kita hanya berteman. Oh pasti kamu ngeliat kemaren aku berduaan sama Daffa ya? Kemaren itu kita berduaan, karena Daffa lagi curhat. Dia lagi suka sama seorang cewe. Cewe itu Miranda.” Kata Nita. “Mi...Miranda...?” Tanyaku. “Iya, Daffa lagi suka sama Miranda dan dia lagi minta bantuan sama aku buat bantuin dia deket sama Miranda.” Sahut Nita. Akupun menangis keras dan bertanya kepada otakku “Kenapa aku bisa sangat pededan berfikir kalau Daffa juga menyukaiku? Tentu saja semua itu mustahil!!!”. “Udah ya Na, kamu lupain aja si Daffa itu. Daffa juga bukan cowo baik-baik. Kamu tau kenapa dia pindah dari Aceh? Karena disana dia di keluarin dari sekolahnya karena dia narkoba. Orang tuanya sudah angkat tangan terhadap dia. Sekarang di Jakarta dia tinggal sama omnya yang masih mau menampung dia.” Kata Nita. “Narkoba...?”Tanyaku tidak percaya. “Iya dia dulu bandel banget deh pokoknya, dia sendiri kok yang cerita. Dan dia bilang sampai sekarang dia masih belum bisa meninggalkan kebiasaan buruknya itu.”Jawab Nita. “Aku cuman ngga mau sahabatku ini kenal sama Daffa yang ternyata bukan orang baik-baik” Lanjut Nita. Aku langsung memeluk sahabatku dan menangis tersedu-sedu. “Terima kasih Nita, terima kasih karena kamu satu-satunya orang yang mau nerima aku apa adanya kaya gini” Sahutku sambil memeluk Nita erat.

Hanika


Hanika     

            Hanika Maura Silvania. Ya, itu adalah namaku. Aku terlahir dari keluarga yang miskin. Ayahku adalah seorang tukang sampah. Dan Ibuku adalah seorang tukang cuci. Hidupku sangat kekurangan. Bahkan aku sempat hampir putus sekolah karena orang tuaku sudah tidak mampu lagi membiayaiku. Tapi, untung saja aku mendapat beasiswa dari sekolah sehingga aku bisa melanjutkan kembali sekolahku. Dari kecil memang aku suka sekali menyanyi. Ibuku juga suka sekali menyanyi dangdut. Setiap sore pasti Ibuku menyetel lagu dangdut. Otomatis lama-kelamaan aku jadi bisa menyanyi dangdut dan hafal berbagai lagu dangdut. Pernah sekali, di Sekolah ku dulu saat masih di Sekolah Dasar, mengadakan lomba menyanyi. Aku mendaftarkan diri. Lalu, menyanyilah aku dengan pede diatas panggung. Saat itu, aku menyanyikan lagu dangdut. Hampir semua temanku menertawakanku. Aku sendiri heran, apa yang perlu diketawai dari lagu dangdut. Menurut ku dangdut itu asik dan unik. Sampai akhirnya diumumkanlah pemenang dari lomba tersebut. Ya, aku mendapatkan juara I Lomba menyanyi di sekolahku. Mulai dari situ, bakat ku mulai terlihat. Kata Guruku, suara ku bagus, masih kecil saja sudah pintar menyanyikan lagu dangdut. Dan kata beliau, aku harus sering-sering berlatiih mulai dari sekarang, karena aku akan diikutkan Lomba Menyanyi tingkat Sekolah Dasar se-DKI Jakarta. WOW! Aku benar-benar tidak menyangka.
                Hari itupun datang. Aku telah menyiapkan semuanya secara maksimal. Mulai dari suara, pakaian, dan atribut-atribut yang akan aku pakai saat lomba. Orang tua ku kebetulan tidak bisa hadir dalam perlombaan itu karena mereka harus bekerja. Tapi tak apalah, aku yakin mereka pasti mendoakan yang terbaik untukku. Giliranku untuk tampil pun tiba. Aku memberikan penampilan terbaikku kepada juri. Aku benar-benar ngga menyangka mereka sampai memberikan standing applause setelah melihat penampilanku. Aku benar-benar puas sekali. Dan lagi-lagi aku mendapatkan juara pertama saat itu. Setelah itu, aku mulai sering mengikuti lomba-lomba menyanyi sampai aku SMA. Sudah banyak sekali piala yang terkumpul didalam rumahku. Alhamdulillah, berkat menyanyi ini aku bisa membantu ekonomi keluargaku sedikit demi sedikit karena sekarang aku sudah sering dipanggil untuk mengisi acara menyanyi di acara-acara.
                Sore ini langit diselimuti awan gelap. Kami sekeluarga lagi berkumpul didepan tv sambil menonton kartun kesukaanku. Jarang-jarang kami bisa berkumpul seperti ini. Saat iklan, tiba-tiba muncul audisi tentang diadakannya kompetisi dangdut. Ibuku langsung mendesakku untuk mengikuti kompetisi itu. Akupun sebenarnya tergiur, tapi aku agak sedikit merasa takut gagal. Tapi apa salahnya dicoba. Akhirnya aku menyiapkan berkas-berkas apa saja yang harus dilengkapi untuk mengikuti kompetisi itu. Setelah berkas lengkap, aku meminta doa restu kepada orang tuaku, adik-adikku serta keluarga ku yang lain. Aku pun akhirnya audisi, dan ternyata aku lolos! Rasanya seneng banget. Setelah aku lolos audisi, aku pun di karantina di asrama tempat kompetisi itu berlangsung. Kangen rasanya sama Ayah, Ibu dan adik-adik. Hari demi hari berlalu. Aku selalu lolos dari eliminasi. Sampai akhirnya aku masuk ke dalam 3 besar. Nama ku sudah terkenal saat itu. Banyak sekali yang mengidolakanku. Sampai-sampai ada yang rela tidur didepan rumahku hanya demi berfoto bersama denganku. Alhamdulillah, dengan aku yang seperti ini, sudah bisa mengangkat derajat keluargaku. Dari yang dulu suka dihina orang, bahkan tidak dianggap sama orang. Sekarang keluargaku sudah lumayan berkecukupan.
Final pun datang. Tidak yakin rasanya kalau aku bakal memenangkan kompetisi ini, tapi Ibuku selalu menyuruhku untuk optimis dan berdoa supaya aku bisa menjadi pemenangnya. Semua keluargaku datang untuk memberikan dukungan. Akupun juga sudah memberikan yang terbaik Juri pun semua juga memujiku. Alhamdulillah, kataku. Saat pengumuman pemenang tiba. Aku deg-deg an sekali, rasanya jantungku seperti mau copot. Di dalam hati, aku terus berdoa supaya diberikan hasil yang terbaik. Sampai akhirnya aku mendengar dari telingaku sendiri kalo aku lah sang juaranya. Ya Allah..Rasanya seperti mimpi, tapi nyata! Aku langsung sujud syukkur dan berterima kasih kepada Allah SWT. Janjiku jikalau aku menang adalah, ingin menaikkan orang tuakkku haji dan membahagiakan adik-adikku. Dan alhamdulillah semuan itu bisa terwujud. Usaha dan doa ku selama ini tidak sia-sia.

Kado Ulang Tahun buat Ibu

Kado Ulang Tahun buat Ibu


                “Hoaamm...”, aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. “Untung sekarang hari minggu”, sahutku. Aku langsung bangun dari tempat tidurku lalu bergegas untuk membereskannya. Ya, memang sekarang adalah hari minggu, tapi hari minggu bukan menjadi hari libur untukku seperti kebanyakan anak-anak lain yang menghabiskan akhir pekan mereka untuk jalan-jalan, berbelanja, ataupun berekreasi ke tempat seru bersama keluarga mereka. Di hari libur seperti ini, aku membantu Ibuku berjualan Pecel di Pasar. Ya, Ibuku adalah seorang penjual pecel. Dan aku sangat bangga terhadap Ibu walaupun Ibu adalah seorang penjual pecel.
                Aku Via, aku adalah anak pertama dari 2 orang bersaudara. Aku mempunyai satu adik perempuan bernama Kia yang umurnya masih 9 tahun. Bapakku sudah meninggalkan kami selama hampir 5 tahun karena penyakit TBC. Jadi, ibuku bisa dikatakan sebagai single parents di  keluarga kami ini.
                “Vi... Cepat! Kita sudah hampir terlambat. Langganan Ibu nanti nungguin, ayo lah kamu lagi ngapain sih!” Sahut Ibu. “Iyaaa bu, Via udah siap nih. Bismillah yah bu, semoga hari ini dagangan kita laku keras, berangkaaaatt!” Sahut aku semangat. Sesampainya di pasar, ternyata benar langganan Pecel Ibuku sudah banyak yang nunggu. Seneng banget liatnya, walaupun Ibuku menjual Pecel ini dipasar, tapi langganannya udah dimana-mana. Aku membantu Ibu membungkus pesanan, menghitung, mengikat, pokoknya semuanya bisa deh aku kerjain! Jam telah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ini memang saatnya kami pulang kerumah. Lagipula dagangan Ibu sudah habis.
                Sesampai dirumah, tidak sengaja aku melihat ke arah kalender. “Yaampun! Sebentar lagi kan tanggal 3 April, Ibuku ulang tahun!”. Aku langsung memeriksa isi dompetku, ternyata hanya ada Rp 15.000. “Mana cukup beliin Ibu Kue dan hadiah kalo aku cuman punya duit segini.” Fikirku sedih. Terpaksa aku membuka celenganku. “Praaanggggg” Celenganku pun pecah. Lalu aku hitung satu demi satu uang yang ada. Terkumpul Rp 356.000. “Aku ingat, waktu itu Ibu pernah bilang kalo Ibu pengen punya perhiasan lagi. Soalnya kan waktu itu perhiasan Ibu satu-satunya terpaksa dijual untuk biaya berobat Kia. Bismillah, semoga uang ini bisa buat beli perhiasan untuk Ibu.” Sahutku.
                Senin pun tiba. Aku berangkat sekolah seperti biasa menggunakan sepeda andalanku sejak aku masih di sekolah dasar. Sepeda ini adalah kado ulang tahunku yang ke 8 pemberian dari Bapak. “Kringggg...Kringgg...” Bel istirahat berbunyi. “Vi, ayo ke kantin!” Ajak temanku. “Ah ngga usah, aku ngga jajan dulu buat satu minggu kedepan. Lagian aku ga lapar” Jawabku. Aku sengaja menghindari kantin supaya uang jajanku tetap utuh. Seminggu aku tidak ke kantin. Maka terkumpul lah uangku untuk membelikan kado buat Ibu.
                Besok adalah hari ulang tahun Ibu. Sepulang sekolah, aku bergegas ke Toko Emas untuk membeli perhiasan untuk kado Ibu. Disana aku memilah-milah berbagai cincin. Cantik-cantik model cincinnya, aku sampai bingung harus pilih yang mana. Melihat kondisi uangku yang tidak terlalu banyak, dan kebetulan saat ini harga emas lagi naik, aku hanya bisa membelikan Ibuku emas dengan model yang biasa saja. Tapi menurutku, walaupun biasa tapi pasti tetap terlihat manis kalau dipakai di jari manis Ibu. 
                3 April. Ya, hari ini hari Ulang Tahun Ibu. Tidak sabar rasanya aku ingin cepat-cepat memberikan kado ini kepada Ibu. Aku keluar dari kamar ku, Adikku Kia sedang menonton tv sambil melahap sarapan yang dibuat Ibu. Sepertinya Ibu tidak ingat kalau hari ini adalah hari Ulang Tahunnya. “Ibuuu... Selamat Ulang Tahunnn!!!” Teriak aku di depan nya. Ibuku Kaget. Kaget sekali. “Yaampun sayang.. Ibu aja sampai lupa. Ini apa nak?” tunjuk ibuku ke kotak yang berisi perhiasan itu. “Ibu buka aja” Sahutku. Lalu, Ibuku membukanya. Ibuku kaget lagi. Dan sekarang Ibuku bukan hanya kaget, tapi dia juga meneteskan air mata. “Via..Kamu dapet uang dari mana sampai bisa membelikan Ibu Perhiasan seperti ini, Nak?” Tanya Ibuku sambil memelukku. “Gausah tanya aku dapet dari mana yah Bu. Yang penting sekarang Ibu seneng kan? Via seneng kalo Ibu seneng. Sekarang di dunia ini Via cuman punya Ibu dan Kia aja. Jadi Via berkewajiban buat bikin Ibu dan Kia senang. Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun yah, Bu..” Kata ku. Ibuku menangis terharu sambil memelukku dan memeluk Kia.

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN



MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

A. MANUSIA
Dalam ilmu eksakta, manusia dipandng sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika), manusia merupakan makhluk biologisyang tergolong dalam golongan makhluk mamalia (biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial manusia merupakanmakhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik) makhluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan lain sebagainya.
Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia
1) Manusia terdiri dari empat unsur terkait, yaitu
a. Jasad,
b. Hayat.
c. Ruh,
d. Nafs.
2) Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :
a. Id, merupakan libido murni,atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran (unconcious). Terkurung dari realitas dan pengaruh sosial, Id diatur oleh prinsip kesenangan, mencari kepuasan instingsual libidinal yang harus dipenuhi baik secara langsung melalui pengalaman seksual, atau tidak langsung melalui mimpi atau khayalan.
b. Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c. Superego, merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunyai otoritas di dalam lingkungan luar diri, biasanya merupakan asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua.
B. HAKEKAT MANUSIA
a. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
b. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Terdiri dari dua hal,yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia,misalnya:
1) Perasaan intelektual,
2) Perasaan estetis,
3) Perasaan etis,
4) Perasaan diri,
5) Perasaan sosial,
6) Perasaan religius.
c. Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi.
d. Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

C. KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR
Francis L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dalam dirinya keahlian di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik.
Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting. Biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampaui banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri.
Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subyek yang terkandung dlam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai makhluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar dan pribadi.
Nomor 7 dan nomor D disebut daerah tak sadar dan sub sadar. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam.
Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan (unexpressed conscious). Lingkaran it terdiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan,tetapi disimpannya saja di dalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Hal itu disebabkan ada kemungkinan, bahwa :
a) Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau karena ia punya maksud jahat.
b) Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapat respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut bahwa walaupun diberi respons, respons itu sebenarnya tak diberikkan dengan hati yang ikhlas atau juga karena ia takut ditolak mentah-mentah.
c) Ia malu karena taku ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam.
d) Ia tidak bisa menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.
Nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious). Lingkaran ini di dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu kepada sesamanya.
Nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, binatang-binatang, atau benda-benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dan tempat mencurahkan isi hati apabila ia sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihan dan oleh masalah-masalah hidup yang menyulitkan.
Nomor 2 disebut lingkungan hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap sayang dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang atau benda-benda itu bagi dirinya.
Nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda-benda, alat-alat, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Nomor 0 disebut lingkungan dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hampir sama dengan pikiran yang terletak dalam lingkungan nomor 1, hanya bedanya terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap masa bodoh.
D. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukkan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu.
Herkovis memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus.
Dalam sehari-hari istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama seni suara dan seni tari.
Kebudayaan dari bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah. Jadi secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungannya.”.
E.B.Tylor (1871) mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan sebagai anggota masyarakat.
Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir.
E. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Melville J. Herkovits mengajukan pendapatnya tentang unsur kebudayaan menmpunyai empat unsur, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga dan kekuatan politik. Sedangkan Broinslaw Malinowski mengatakan unsur-unsur itu terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan.
C.Kluckhohn dalam karyanya berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan ada tujuh kebudayaan universal,yaitu :
1. Sistem Religi (sistem kepercayaan)
2. Sistem Organisasi Kemasyarakatan
3. Sistem Pengetahuan
4. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
5. Sistem Teknologi dan Peralatan
6. Bahasa
7. Kesenian.
F. WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu,
1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia.
2. Kompleks aktivitas.
3. Wujud sebagai benda.
G. ORIENTASI NILAI BUDAYA
Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya Variation in Value Orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1. Hakekat hidup manusia (MH)
2. Hakekat karya manusia (MK)
3. Hakekat waktu manusia (WM)
4. Hakekat alam manusia (MA)
5. Hakekat hubungan manusia (MN)
H. PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1. Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
2. Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalamsuatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain aturan-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan, juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian), dan bahasa.
I. KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain, proses dialektis tercipta melalui tiga tahap, yaitu :
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disegrap kembali oleh manusia.
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat atu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan.

Thursday, January 22, 2015

AGAMA DAN MASYARAKAT


Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang ati dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan maut menimbulkan relegi dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agama para tasauf.

Bukti-bukti itu sampai pada pendapat bahwaagama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Agama yang diyakini, merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial dan invidu dengan masyarakat yang seharusnya tidak bersifat antagonis.

Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal yang normative atau menunjuk kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.

Contoh kasus akibat tidak terlembaganya agama adalah “anomi”, yaitu keadaan disorganisasi sosial di mana bentuk sosial dan kultur yang mapan jadi ambruk. Hal ini, pertama, disebabkan oleh hilangnya solidaritas apabila kelompok lama di mana individu merasa aman dan responsive dengan kelompoknya menjadi hilang. Kedua, karena hilangnya consensus atau tumbangnya persetujuan terhadap nilai-nilai dan norma yang bersumber dari agama yang telah memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok.

1. Fungsi Agama

Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari dalam mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan sejauh mana fungsi lembaga agama memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan adalah suatu sistem, atau sejauh mana agama dapat mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya. Pertanyaan tersebut timbul karena sejak dulu hingga sekarang, agama masih ada dan mempunyai fungsi, bahkan memerankan sejumlah fungsi.

Manusia yang berbudaya, menganut berbagai nilai, gagasan, dan orientasi yang terpola mempengaruhi perilaku, bertindak dalam konteks terlembaga dalam lembaga situasi di mana peranan dipaksa oleh sanksi positif dan negatif serta penolakan penampilan, tapi yang bertindak, berpikir dan merasa adalah individu itu sendiri.

Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial agama terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, sampai konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan dasar yang dapat dipenuhi oleh nilai-nilai duniawi, tapi tidak menguntik hakikat apa yang ada di luar atau referensi transdental.

Aksioma teori di atas adalah, segala sesuatu yang tidak berfungsi akan hilang dengan sendirinya. Teori tersebut juga memandang kebutuhan “sesuatu yang mentransendensikan pengalaman” sebagai dasar dari karakteristik eksistensi manusia. Hali itu meliputi, Pertama, manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian juga hal penting bagi keamanan dan kesejahteraannnya berada di luar jangkauan manusia itu sendiri. Kedua, kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan mempengaruhi kondisi hidupnya adalah terbatas, dan pada titik tertentu akan timbul konflik antara kondisi lingkungan dan keinginan yang ditandai oleh ketidakberdayaan. Ketiga, manusia harus hidup bermasyarakat di mana ada alokasi yang teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, dan ganjaran.

Jadi, seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan; dan agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.

Fungsi agama terhadap pemeliharaan masyarakat ialah memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat. Contohnya adalaha sistem kredit dalam masalah ekonomi, di mana sirkulasi sumber kebudayaan suatu sistem ekonomi bergantung pada kepercayaan yang terjalin antar manusia, bahwa mereka akan memenuhi kewajiban bersama dengan jenji sosial mereka untuk membayar. Dalam hal ini, agama membantu mendorong terciptanya persetujuan dan kewajiban sosial dan memberikan kekuatan memaksa, memperkuat, atau mempengaruhi adat-istiadat.

Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka norma pun dikukuhkan dengan sanksi sakral. Sanski sakral itu mempunyai kekuatan memaksa istimewa karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi, supramanusiawi, dan ukhrowi.

Fungsi agama di sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama baik antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang mempersatukan mereka.

Fungsi agama sebagai sosialisasi individu adalah, saat individu tumbuh dewasa, maka dia akan membutuhkan suatu sistem nilai sebagai tuntunan umum untuk mengarahkan aktifitasnya dalam masyarakat. Agama juga berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua tidak akan mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadah secara teratur dan kontinu.

Masalah fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama. Menurut Roland Robertson (1984), dimensi komitmen agama diklasifikasikan menjadi :

a.Dimensi keyakinan mengandug perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran tertentu.

b.Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra nyata. Ini menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, perbuatan mulia, berbakti tidak bersifat formal, tidak bersifat publik dan relatif spontan.

c.Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan dengan suatu perantara yang supernatural meskipun dalam waktu yang singkat.

d.Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.

e.Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki konsekuensi paling penting bagi agama. Akibatnya adalah masyarakat makin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalh kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas dan sering kali dengan pengorbanan lingkungan yang sakral. Menurut Roland Robertson, watak masyarakat sekular tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya, sediktnya peranan dalam pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan-kebiasaan agama.

Umumnya, Kecenderungan sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil dan bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.

Hal itu menimbulkan pertanyaan apakahan masyarakat sekuler mampu mempertahankan ketertiban umum secara efektif tanpa adanya kekerasan institusional apabila pengaruh agama sudah berkurang.

2. Pelembagaan Agama
Agama sangat universal, permanen, dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama, maka akan sulit memahami masyarakat. Hal yang harus diketahui dalam memahami lembaga agama adalah apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi dan struktur dari agama.

Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi-dimensi ini dapat diterima sebagai dalil atau dasar analitis, tapi hubungan antara empat dimensi itu tidak dapat diungkapkan tanpa data empiris.

Menurut Elizabeth K. Nottingham (1954), kaitan agama dalam masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan keseluruhannya secara utuh.

a.Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-nilai Sakral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Sebab itu, keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya:
  1. Agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem masyarakat secara mutlak.
  2. Nilai agama sering meningkatkan konservatisme dan menghalangi perubahan dalam masyarakat dan agama menjadi fokus utama pengintegrasian dan persatuan masyarakat secra keseluruhan yang berasal dari keluarga yang belum berkembang.
b.Mayarakat-masyarakat Praindustri yang Sedang Berkembang
Masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi. Agama memberi arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap masyarakat, pada saat yang sama, lingkungan yang sakral dan yang sekular masih dapat dibedakan. Fase kehidupan sosial diisi dengan upacara-upacara tertentu. Di pihak lain, agama tidak memberikan dukungan sempurna terhadap aktivitas sehari-hari, agama hanya memberikan dukungan terhadap adat-istiadat.

Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman pada tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis dan tentu akan kurang baik. Karena adlam tingkah laku, tentu unsur rasional akan lebih banyak, dan bila dikaitkan dengan agama yang melibatkan unsur-unsur pengetahuan di luar jangkauan manusia (transdental), seperangkat symbol dan keyakinan yang kuat, dan hal ini adalah keliru. Karena justru sebenarnya, tingkah laku agama yang sifatnya tidak rasional memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Agama melalui wahyu atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di dunia dan akhirat. Dalam perjuangannya, tentu tidak boleh lalai. Untuk kepentingan tersebut, perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya. Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehiduapan semua kelompok sosial, merupakan fenomena yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.
Adanya organisasi keagamaan, akan meningkatkan pembagian kerja dan spesifikasi fungsi,juga memberikan kesempatan untuk memuaskankebutuhan ekspresif dan adatif.

Pengalaman tokoh agama yang merupakan pengalaman kharismatik, akan melahirkan suatu bentuk perkumpulan keagamaan yang akan menjadi organisasi keagamaan terlembaga. Pengunduran diri atau kematian figure kharismatik akan melahirkan krisis kesinambungan. Analisis yang perlu adalah mencoba memasukkan struktur dan pengalaman agama, sebab pengalaman agama, apabila dibicarakan, akan terbatas pada orang yang mengalaminya. Hal yang penting untuk dipelajari adalah memahami “wahyu” atau kitab suci, sebab lembaga keagamaan itu sendiri merupakan refleksi dari pengalaman ajaran wahyunya.

Lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Misalnya pada kewajiban ibadah haji dan munculnya organisasi keagamaan.
Lembaga ibadah haji dimulai dari terlibatnya berbagai peristiwa. Ada nama-nama penting seperti Adam a.s, Ibrahim a.s, Siti Hajar, dan juga syetan; tempatnya adalah Masjidil-Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar, Mina, serta Ka’bah yang merupakan symbol penting; ada peristiwa kurban, pakaian ihram, tawaf, sa’I, dan sebagainya.

Adam dan Hawa dalam keadaan terpisah, kemudian keduanya berdoa : “Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S al-A’raf : 23).

Setelah itu Allah SWT memerintahkan Adam untuk ibadah haji (pergi ke sesuatu untuk mengunjunginya). Saat sampai di suatu tempat (Arafah= tahu, kenal), maka bertemulah ia dengan Hawa setelah diusir dari surge. Sebab itu dalam pelaksanaan ibadah haji, ada ketentuan wukuf (singgah).

Nama nabi Ibrahim a.s selalu dikaitkan dengan Ka’bah sebagai pusat rohani agama Islam (Kiblatnya Islam). Pada suatu 
peristiwa Allah memerintahkan Jibril membawa Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail a.s putranya yang masih kecil ke Makkah dari Palestina. Di suatu tempat, Ibrahim a.s atas perintah Allah SWT supaya meninggalkan istri dan putranya. Kemudian Ismail menangis meminta air, tentu saja Siti Hajar menjadi khawatir dan gelisah, maka ia pun berlari mencari air ke bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Setelah itu dengan kuasa Tuhan, memancarlah air dari dekat kaki Ismail (sekarang sumur air Zam-zam). Sebab itu, dalam rukun Haji ada Sa’I (berlari kecil) sebanyak tujuh kali di bukit Shafa dan Marwa. Siti Hajar merupak lambang yang bertanggung jawab, tidak pasrah, perjuangan fisik dan meniadakan diri tenggelam ke dalam samudera cinta.
Kurban dikaitkan resmi dengan ibadah haji. Lembaga ini berhubungan dengan sejarah rohani Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Alla SWT untuk menyembelih putranya Ismail a.s, untuk menguji kesempurnaan tauhidnya. Sewaktu penyembelihan akan dilaksanakan, syetan sempat menggoda Ibrahim a.s agar tidak melaksanakan perintah Allah tersebut. Kemudian Ibrahim dan Ismail melemparkan batu ke arah suara syetan itu berasal. Untuk mengenang peristiwa itu, dalam pelaksanaan ibadah haji diwajibkan melempar jumrah (batu).

Sewaktu Ismail akan disembelih oleh Ibrahim a.s, ternyta Allah menggantinya dengan seekor gibas (domba) jantan. Firman Allah : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan pergi kesana. Barang siapa yang kafir (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah Mahakuasa (tidak memerlukan sesuatu dari alam semesta)” (Q.S 3:97).

Jadi, kewajiban tersebut, esensinya adalah evolusi manusia menuju Allah dengan pengalaman agama yang penting. Mengandung simbolis dari filsafat “pencptaan Adam”, “sejarah”, “keesaan”, “ideology islam”, dan “ummah”.
Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus, bermula dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi keagamaan yang terlembaga.

Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial Islam yang dipelopori oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dari Tafsir Al-Manar. Ayat suci Al-Quran telah memberi inspirasi kepada Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Salah satu mottonya adalah, Muhammadiyah diapandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak pada kebaikan dan mencegah perbuatan jahat (amar ma’ruf, nahi ’anil munkar)

Dari contoh sosial di atas, lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Pelembagaan agama puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.

Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya “perubahan batin” atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan.